Breaking

Sunday, November 1, 2020

PRANATACARA – PAMEDHAR SABDA: KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA JAWA

Pranata Adicara

Pranatacara adalah salah satu keterampilan berbicara dalam bahasa Jawa. Sebenarnya setiap bahasa pasti mengenal keterampilan berbicara, walaupun dengan nama yang berbeda. Khusus dalam bahasa Jawa keterampilan berbicara terdiri atas beberapa jenis, misalnya pranatacara, sesorah, dan medhar sabda.

Pranatacara dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan pembawa acara. Istilah lain pranatacara, antara lain pranata adicara, pambiwara, dan pambyawara. Beberapa syarat menjadi pranatacara bisa dibaca dalam ulasan berikut ini.

 

OLAH SWARA

Olah swara adalah bentuk latihan yang digunakan untuk mendapatkan suara yang baik bagi pranatacara. Suara yag baik bagi pranatacara disebut gandhang, yaitu tidak berisik, ulem atau enak untuk didengarkan, penuh kewibawaan, dan menunjukkan kepribadian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan olah swara.

 

Logat atau Accentuation

Suara pranatacara tidak boleh tercampur dengan logat atau dialek, karena bahasa yang digunakan oleh pranatacara harus baku. Bahasa baku yang digunakan oleh pranatacara adalah bahasa Jawa yang digunakan di daerah Surakarta dan Yogyakarta. Walaupun begitu ketika dalam kondisi santai boleh sesekali pranatacara memakai logat atau dialek untuk mencairkan suasana.

 

Pocapan atau Articulation

Pocapan adalah kejelasan artikulasi dalam ucapan pranatacara. Semua ucapan yang dilisankan oleh pranatacara harus disampaikan dengan benar, termasuk bunyi vokal dan konsonan. Pranatacara tidak boleh menggunakan artikulasi bindheng dan cedhal atau cadel.

 

Napas atau Breath

Pernapasan dalam melaksanakan tugas sebagai pranatacara tidak boleh memaksa. Maksudnya adalah pernapasan harus normal atau stabil, tidak boleh terlihat terengah-engah. Cara supaya pernapasan bisa normal yaitu dengan cara berdiri tegak, rileks atau santai, dan berpakaian longgar,

 

Kecepatan atau Speed dan Intonasi atau Intonation

Pranatacara harus memperhatikan kecepatan dan intonasi dalam berbicara, misalnya pada acara resmi (penganten, kesripahan, dan pahargyan) sebaiknya menggunakan suara rendah dan pelan, sedangkan untuk acara hiburan sebaiknya menggunakan suara tinggi dan cepat.

 

Kajiwan atau Empati

Suara yang diucapkan oleh pranatacara harus bisa menyesuaikan dengan kondisi kejiwaan dalam acara yang dibawakan. Pranatacara harus bisa mengidentifikasi suasana dalam acara, sehingga bisa menentukan suara yang digunakan, misalnya susah dan senang.

 

Laguning Ukara atau Infleksi

Pranatacara sebaiknya memiliki pengetahuan kosakata yang luas, sehingga tidak sering mengulang-ulang kata atau kalimat yang sudah digunakan di bagian sebelumnya. Kata dan kalimat yang sering diungkapkan akan menyebabkan redudansi. Pranatacara juga perlu memperhatikan pemberhentian kalimat atau infleksi.


Contoh Pranatacara
Pranatacara

OLAH RAGA DAN BUSANA

Peribahasa Jawa yang sesuai dengan pranatacara adalah ajining dhiri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana. Pranatacara akan terlihat lebih berwibawa jika memperhatikan kepantasan berbusana dan perawakan. Berikut ini cara olah raga yang bisa dilakukan oleh pranatacara.

  • Magatra: badan, perwajahan, dan cara memakai busana, pantesdan tidak dibuat-buat.
  • Malaksana: cara berjalan luwes dan tidak ragu-ragu.
  • Mawastha: berdiri tegak tidak miring.
  • Maraga: manteb, tenang, tidak gemeter, menghadap ke depan, gerak tangan menunjukkan kejelasan dalam berucap.
  • Malaghawa: terampil, lancar, dan tidak terlalu pelan atau cepat.
  • Matanggap: tanggap dengan suasana, kalau keadaan membutuhkan suasana sepi maka harus bisa tenang dan khidmat, sedangkan dalam suasana gembira harus bisa menyesuaikan dengan keceriaan.
  • Mawwat: manteb, mungkasi adicara kanthi sampurna kaya dene pangajabe kang duwe adicara.

 

OLAH BASA DAN SASTRA.

Pranatacara harus terampil merangkai kata, unggah-ungguh basa Jawa, bahkan menggunakan basa rinengga atau gaya bahasa. Basa rinengga dalam bahasa Jawa biasanya diis menggunakan bahasa Kawi, yaitu bahasa Jawa kuna yang juga sering digunakan dalam cerita pedalangan atau pewayangan. Pranatacara juga biasa menggunakan purwakanthi untuk memperindah bahasa dan sastra yang digunakan.


Baca juga: Purwakanthi: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

 

OLAH JIWA

Olah jiwa berhubungan dengan hal-hal tidak kasad mata dari seorang pranatacara, misalnya mental, bersikap tawajuh, dan samapta. Semua itu harus diolah untuk menjadi seorang pramanatacara yang baik dan murakabi. Berikut ini persiapan olah jiwa yang harus dilalui oleh pranatacara.

 

Mental

Seorang pranatacara harus memiliki mental yang kuat, karena dia harus berdiri di depan orang banyak dan diharapkan bisa murakabi atau bermanfaat bagi semuanya. Semua itu bisa dilakukan dengan cara banyak melaksanakan latihan atau gladhen secara rutin. Gladhen bisa dilakukan secara dua tahap atau bagian, yaitu gladhen simulasi dan gladhen sesungguhnya. Gladhen simulasi dilakukan dengan cara berlatih menerima tamu yang hadir, sedangkan gladhen sesungguhnya dilakukan dengan cara berdiri di samping pranatacara profesional ketika melaksanakan tugas di setiap acara.

 

Tawajuh

Tawajuh adalah sikap disiplin yang harus dimiliki oleh pranatacara. Disiplin kuncinya yaitu penghargaan bagi waktu yang dimiliki. Pranatacara harus datang sebelum para tamu datang, sehingga dia bisa menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan ketika melaksanakan tugas sebagai pranatacara. Bagi pranataraca melaksanakan tugas sebagaimana yang diinginkan oleh pihak tuan rumah atau orang yang mengundang itu sebagai bentuk keharusan. Pranatacara ketika selesai acara harus pulang paling akhir dan memastikan kalau acara sudah berjalan dengan baik atau paripurna.

 

Samapta atau Kesiapan

Samapta artinya siap, maksudnya seorang pranatacara harus mempunyai kesiapan diri pribadi, penampilan busana, dan acara yang akan dipandunya. Pranatacara harus mengusahakan ketika pelaksanaan acara dalam kondisi sehat, sehingga tidak mencari pengganti orang lain untuk menggantikan tugasnya sebagai pranatacara.  

Cukup sekian pembahasan mengenai pranatacara dan pamedhar sabda ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Mari terus melestarikan budaya Jawa sebagai warisan leluhur bangsa! (*)

 

Keterangan: pranatacara dan pamedhar sabda memiliki kedudukan hampir sama, sehingga pembahasan ini bisa juga digunakan untuk berlatih sebagai pamedhar sabda atau berpidato.

No comments:

Post a Comment