Breaking

Sunday, August 23, 2020

PENGGAMBARAN ‘KEBO’ DALAM UNGKAPAN BAHASA JAWA

Kebo dalam Ungkapan Bahasa Jawa

Apakah Anda pernah melihat kebo? Ya kebo adalah bahasa Jawa, sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut kerbau. Kata kebo menjadi kerbau telah melalui proses diftongisasi, karena huruf /o/ telah berubah menjadi /au/.

Ketika kita kecil sering mendengarkan dongeng mengenai kehidupan binatang yang disebut fabel. Dalam dongeng itu kerbau digambarkan sebagai hewan yang berbadan besar, tetapi bodoh. Sehingga setiap orang yang bodoh pasti diidentikkan dengan kerbau.

Pada kesempatan ini mari kita mengungkapkan gambaran kerbau dalam ungkapan bahasa Jawa. Saloka sebagai ungkapan bahasa Jawa menggambarkan atau mengumpamakan seseorang dengan benda atau hewan. Penggambaran kerbau dalam saloka sangat beragam sesuai dengan keadaan yang digambarkan.

 

KEBO BULE MATI SETRA

Ungkapan kebo bule mati setra berarti orang yang pandai yang sengsara hidupnya karena tidak bisa mengamalkan ilmunya. Sifat yang melekat pada kerbau kali ini sedikit berbeda dengan pada umumnya, karena kerbau diartikan sebagai orang yang pandai. Walaupun pada akhirnya orang yang pandai ini tidak bisa memanfaatkan kepandaiannya.

 

KEBO ILANG TOMBOK KANDHANG

Kebo ilang tombok kandhang adalah seseorang yang berusaha mencari barangnya yang hilang, namun justru menghabiskan barang yang lainnya. Ungkapan ini hanya menggambarkan kerbau sebagai orang saja tanpa sifat yang melekat. Penekanan pada ungkapan ini hanya pada keadaan seseorang yang mengalami kerugian ganda mirip dengan ungkapan jatuh tertimpa tangga.

 

KEBO KABOTAN SUNGU

Ungkapan kebo kabotan sungu adalah penggambaran dari orang tua yang hidupnya sengsara karena terlalu banyak anak. Mungkin ungkapan ini adalah pertentangan dari pemahaman banyak anak banyak rezeki. Pada hakikatnya keadaan seperti ini tergantung pada perilaku hidup yang diterapkan.

 

KEBO LUMAKU DIPASANGI

Kebo lumaku dipasangi maksudnya adalah seseorang yang seharusnya hidup santai atau selesai bekerja, namun masih dipekerjakan. Gambaran seperti ini menunjukkan keadaan seseorang yang tidak pada mestinya, misalnya seseorang yang sudah tua atau pensiun dari pekerjaannya namun masih dipekerjakan. Mungkin jika hal seperti itu terjadi pada kita, maka kita bisa berpikir kalau masih harus mengabdikan diri. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kita bisa mengambil hikmah yang ada di baliknya.

 

KEBO LUMUMPAT ING PALANG

Ungkapan kebo lumumpat ing pagar artinya orang yang melanggar peraturan atau hukum. Kerbau memang termasuk hewan peliharaan, namun kadang kala sifat hewaninya juga keluar, misalnya melompati pagar. Kerbau menggambarkan seseorang yang melampaui batas-batas pranata kehidupan seperti norma sosial, doktrin agama, maupun hukum negara. Mari pandai-pandai menjaga diri.

 

KEBO MULIH MENYANG KANDHANGE

Kebo mulih menyang kandhange menggambarkan keadaan seseorang yang sudah berhasil dalam perantauan dan tiba saatnya kembali ke kampung halamannya. Kerbau kali ini digunakan untuk menggambarkan seorang perantau. Hal yang bagus jika seseorang berhasil membangun kampung halamannya, walaupun harus merantau terlebih dahulu. Kampung halaman selalu menjadi tempat tinggal terindah bagi setiap orang.

 

KEBO MUTUNG ING PASANGAN

Ungkapan kebo mutung ing pasangan artinya seseorang yang tidak mau melanjutkan pekerjaannya karena tidak menyukai pekerjaan itu. Jangan sampai gambaran dari ungkapan itu terjadi pada kehidupan kita. Seseorang yang melakukan rutinitas kerja memang kadang menjenuhkan, maka perlu kiranya melakukan rekreasi secukupnya untuk meningkatkan etos kerja. Pada intinya ada waktunya kerja, ada waktunya beristirakat. Pengelolaan waktu sangat diperlukan dalam hidup kita.

 

KEBO NYUSU GUDEL

Ungkapan kebo nyusu gudel menggambarkan orang tua yang meminta diajari oleh anak muda yang lebih pandai. Pada ungkapan ini kerbau menggambarkan orang tua. Sebagai orang tua tidak seharusnya malu bertanya kepada anaknya ketika memang tidak tahu sesuatu dan dipandang anaknya lebih paham akan hal itu. Keadaan seperti ino juga baik diterapkan dalam lingkungan kerja, supaya tercipta harmonisasi tim kerja dan tercapai tujuan yang direncanakan.

 

KEBO SAPI DIKELUHI YEN WONG DIKANDHANI

Kebo sapi dikeluhi yen wong dikandhani artinya bentuk pembelajaran itu disesuaikan dengan siapa atau apa yang diajari. Ungkapan ini berlawanan dengan digebyah uyah yen padha asine, yaitu asal disamakan tanpa dasar yang jelas. Memang kadang kala kita memperlakukan sesuatu itu secara sama. Mungkin hal itu kita lakukan untuk meringkas pekerjaan dan menyingkat waktu. Mari kita melaksanakan tugas sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan kita dan memperlakukan sesuatu sebagaimana mestinya. (*)

No comments:

Post a Comment