Breaking

Thursday, May 9, 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 : MENDAYAGUNAKAN DIRI SEBAGAI GURU UNTUK MENUNTUN KODRAT MURID

sasana widya guru

 

Sebagai guru Bahasa Jawa di SMP Negeri 20 Surabaya, saya memiliki peran dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-murid dengan memanfaatkan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah. Berikut adalah penjelasan mengenai kaitan peran saya dalam konteks tersebut:

 

>>> Pengajaran Bahasa Jawa dan Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Pengajaran Bahasa Jawa dapat menjadi sarana yang sangat efektif dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Berikut adalah beberapa cara yang saya lakukan dalam pengajaran Bahasa Jawa dapat terkait dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara:


sasana widya guru
Karya Saya di Majalah Jaya Baya sebagai Media Belajar 


Penggunaan Sastra Jawa sebagai Sarana Pembelajaran

Bahasa Jawa kaya akan sastra, baik itu dalam bentuk puisi, prosa, maupun drama. Sastra Jawa sering kali mengandung nilai-nilai kearifan lokal, moralitas, dan nasionalisme yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh Ki Hajar Dewantara. Sebagai contoh, dalam karya-karya sastra Jawa seperti tembang macapat, kidung, atau cerita rakyat, terdapat nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kesetiaan, dan semangat gotong royong yang menjadi landasan pendidikan moral Ki Hajar Dewantara.

 

Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya menghargai dan memanfaatkan budaya lokal dalam pembelajaran. Pengajaran Bahasa Jawa dapat menjadi wadah untuk mempelajari dan mengapresiasi budaya Jawa, termasuk tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini sesuai dengan prinsip "tut wuri handayani" Ki Hajar Dewantara, di mana pendidik diharapkan untuk menghormati dan memberikan dorongan dari belakang kepada murid dalam mengembangkan potensi mereka.

 

Berpikir Kritis melalui Analisis Sastra Jawa

Pengajaran Bahasa Jawa juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis murid melalui analisis teks sastra Jawa. Murid dapat diajak untuk memahami, menganalisis, dan menafsirkan makna dari teks-teks sastra Jawa, serta meresponsnya secara kritis. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip "tut wuri handayani" Ki Hajar Dewantara, di mana murid saya dorong untuk menjadi subjek belajar yang aktif dan mandiri.


Melalui pemanfaatan pengajaran Bahasa Jawa sebagai sarana untuk mengapresiasi budaya lokal, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan memahami nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam sastra Jawa, pendidik dapat efektif mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pengajaran Bahasa Jawa bukan hanya sekadar pembelajaran linguistik, tetapi juga merupakan bagian integral dari pendidikan karakter dan pengembangan potensi murid sesuai dengan visi Ki Hajar Dewantara untuk menciptakan generasi bangsa yang berbudaya, berkepribadian, dan berdaya saing.

 

>>> Pembentukan Profil Pelajar Pancasila melalui Pembelajaran Bahasa Jawa

Menurut saya pembelajaran Bahasa Jawa dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk profil pelajar Pancasila, di mana murid tidak hanya menguasai kompetensi bahasa Jawa, tetapi juga memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa cara di mana pembelajaran Bahasa Jawa dapat membantu dalam pembentukan profil pelajar Pancasila:


sasana widya guru
Berperan sebagai Koordinator P5

 

Mempelajari Nilai-Nilai Kebangsaan dalam Sastra Jawa

Sastra Jawa sering kali mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan kebangsaan yang sejalan dengan Pancasila. Melalui pembelajaran Bahasa Jawa, murid dapat mempelajari teks-teks sastra yang mengangkat nilai-nilai seperti persatuan, keragaman, keadilan, dan demokrasi. Dengan memahami dan menginternalisasi nilai-nilai ini, murid dapat menjadi pelajar yang memiliki kesadaran akan identitas nasional dan komitmen terhadap kebhinekaan.

 

Mengapresiasi Keanekaragaman Budaya dan Bahasa

Pembelajaran Bahasa Jawa juga dapat membantu murid untuk menghargai dan mengapresiasi keanekaragaman budaya dan bahasa di Indonesia. Bahasa Jawa memiliki banyak dialek dan variasi yang mencerminkan keragaman budaya di Jawa. Dengan memahami dan menghargai keberagaman ini, murid dapat menginternalisasi nilai-nilai Pancasila tentang persatuan dalam keragaman.

 

Pembelajaran Etika dan Moralitas melalui Cerita Rakyat Jawa

Cerita-cerita rakyat Jawa sering kali mengandung pesan moral dan etika yang dapat membentuk karakter murid. Melalui pembelajaran Bahasa Jawa, murid dapat mempelajari dan menganalisis cerita-cerita rakyat Jawa untuk memahami nilai-nilai kebijaksanaan, kejujuran, keberanian, dan kebaikan hati. Dengan memahami dan menginternalisasi pesan moral ini, murid dapat menjadi pelajar yang memiliki karakter yang kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

 

Berpartisipasi dalam Upacara Adat dan Tradisi Lokal: Sebagai bagian dari pembelajaran Bahasa Jawa, murid dapat berpartisipasi dalam upacara adat dan tradisi lokal yang merupakan bagian dari budaya Jawa. Melalui pengalaman langsung ini, murid dapat memahami nilai-nilai kearifan lokal yang tercermin dalam upacara adat, seperti rasa hormat kepada sesama, kerja sama, dan keberanian. Hal ini dapat membantu murid dalam memperkuat pemahaman mereka tentang nilai-nilai Pancasila.

 

>>> Penerapan Paradigma Inkuiri Apresiatif untuk Pembelajaran Bahasa Jawa

Penerapan paradigma inkuiri apresiatif (IA) dalam pembelajaran Bahasa Jawa dapat menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan murid untuk menghargai keberagaman budaya, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Berikut adalah beberapa cara penerapan paradigma inkuiri apresiatif yang saya lakukan dalam pembelajaran Bahasa Jawa:

 

Penghargaan Terhadap Keanekaragaman Budaya

Dalam pembelajaran Bahasa Jawa, saya memperkenalkan murid pada berbagai aspek kebudayaan Jawa, termasuk bahasa, sastra, adat istiadat, dan tradisi. Saya mengajak murid untuk menghargai keanekaragaman budaya ini dengan mendiskusikan berbagai bentuk ekspresi budaya melalui puisi, dongeng, musik tradisional, tarian, dan seni rupa Jawa.

 

Eksplorasi Teks Sastra Jawa

Melalui paradigma inkuiri apresiatif, murid dapat didorong untuk mengeksplorasi berbagai teks sastra Jawa, seperti tembang macapat dan cerita rakyat. Saya memberikan kebebasan kepada murid untuk memilih teks sastra yang menarik minat mereka, kemudian menganalisisnya secara mendalam. Selama proses eksplorasi, murid dapat diajak untuk bertanya, menyelidiki, dan merespons teks secara kreatif.

 

Diskusi Terbuka dan Dialog

Paradigma inkuiri apresiatif mendorong terjadinya diskusi terbuka dan dialog antara guru dan murid, maupun antara murid satu sama lain. Saya sebagai guru Bahasa Jawa dapat memfasilitasi diskusi tentang teks sastra yang dibaca, memperkaya pemahaman murid tentang konteks budaya, sejarah, dan nilai-nilai yang terkandung dalam teks tersebut. Diskusi semacam ini juga dapat membantu murid untuk memahami perbedaan sudut pandang dan menghargai keberagaman interpretasi terhadap teks sastra.


sasana widya guru
Pembelajaran Berbasis Proyek

 

Proyek Kolaboratif

Saya merancang proyek kolaboratif di mana murid bekerja secara bersama-sama untuk mengeksplorasi aspek-aspek kebudayaan Jawa tertentu. Murid dapat bekerja dalam kelompok untuk menyusun pertunjukan teater berdasarkan cerita rakyat Jawa yang dipilih, atau membuat portofolio seni yang menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa. Proyek semacam ini tidak hanya meningkatkan pemahaman murid tentang kebudayaan Jawa, tetapi juga mengembangkan keterampilan kerja sama dan kepemimpinan.

 

Refleksi dan Evaluasi Diri

Penting bagi murid untuk merenungkan pengalaman pembelajaran mereka secara berkala. Saya mengajak murid untuk merefleksikan proses pembelajaran mereka, mengidentifikasi pencapaian mereka, serta mengevaluasi tantangan dan hambatan yang mereka alami. Melalui refleksi dan evaluasi diri, murid dapat mengembangkan kesadaran metakognitif tentang proses pembelajaran mereka dan meningkatkan kemandirian belajar.

 

Dengan menerapkan paradigma inkuiri apresiatif dalam pembelajaran Bahasa Jawa, saya dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang memperkaya, bermakna, dan memberdayakan siswa untuk menjadi pembelajar yang aktif, kritis, dan menghargai keberagaman budaya. Ini sejalan dengan tujuan pendidikan Bahasa Jawa untuk memperkuat identitas budaya siswa, meningkatkan kompetensi berbahasa, dan mengembangkan apresiasi terhadap warisan budaya bangsa. Maka visi “Mendayagunakan Diri sebagai Guru untuk Menuntun Kodrat Murid”. (*)

No comments:

Post a Comment