Breaking

Saturday, April 6, 2024

MODUL 1.1 CGP : GURITAN “KERATA BASA GURU” WUJUD DEMONSTRASI KONTEKSTUAL FILOSOFI KI HAJAR DEWANTARA

sasana widya guru


Pendidikan merupakan salah satu fondasi utama pembangunan sebuah bangsa. Di Indonesia, sosok Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai pelopor pendidikan modern yang mengusung filosofi pendidikan yang berpihak kepada murid. Melalui pendekatan ini, Ki Hajar Dewantara tidak hanya menganggap murid sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki potensi dan keunikan yang harus dihargai.

 

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya memahami dan menghargai keberagaman individualitas setiap murid. Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhan mereka. Pendekatan ini berakar pada prinsip bahwa pendidikan yang efektif haruslah menyelaraskan antara kepentingan individu dengan kebutuhan masyarakat.

 

Lebih dari sekadar mengejar prestasi akademik, Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pengembangan karakter, kreativitas, dan kepemimpinan dalam pendidikan. Baginya, pendidikan seharusnya tidak hanya mempersiapkan murid untuk sukses secara materi, tetapi juga membentuk manusia yang berbudi luhur, berkepribadian mulia, serta memiliki kesadaran sosial yang tinggi.

 

Pendekatan pendidikan Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau budaya mereka. Ki Hajar Dewantara mendukung inklusi pendidikan yang memungkinkan semua anak, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus, untuk belajar secara bersama-sama.

 

Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, guru bukanlah sekadar pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan sahabat dalam perjalanan pendidikan murid. Guru harus menjadi teladan yang baik dan memahami secara mendalam setiap kebutuhan dan potensi muridnya.

 

Secara keseluruhan, filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang berpihak kepada murid menekankan pentingnya memberikan pendidikan yang inklusif, berpusat pada murid, dan menghargai keberagaman individualitas. Pendekatan ini tidak hanya membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang memiliki kepribadian yang kokoh, berempati, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.

 

Tantangan Pendidikan dalam Konteks Kota Surabaya

Konteks pendidikan di kota Surabaya untuk penerapan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang berpihak kepada murid menemui sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan secara khusus. Surabaya adalah salah satu kota besar di Indonesia dengan populasi yang padat dan keragaman sosial yang tinggi, menghadapi dinamika pendidikan yang kompleks.


Tantangan Pendidikan Kota Surabaya

 

Pendidikan di Kota Surabaya menemui tantangan yang unik dalam menerapkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang berfokus pada pemberdayaan murid. Meskipun idealnya pendidikan harus menjadi wahana untuk memenuhi potensi setiap individu, namun dalam kenyataannya, kota yang padat ini menghadapi sejumlah hambatan yang perlu diatasi.

 

Salah satu tantangan utama adalah ketimpangan akses pendidikan di berbagai daerah kota. Meskipun Surabaya memiliki beragam institusi pendidikan, namun tidak semua wilayah mendapatkan porsi yang sama dalam hal kualitas dan aksesibilitas pendidikan. Hal ini dapat menciptakan kesenjangan sosial dan pendidikan yang perlu ditangani secara serius.

 

Dalam mengadaptasi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, Surabaya juga dihadapkan pada tantangan dalam menyusun kurikulum dan metode pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan lokal dan global. Pengembangan kurikulum yang mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan siswa Surabaya menjadi krusial untuk memastikan efektivitas pendidikan yang berpihak kepada murid.

 

Tantangan lainnya adalah dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di tengah keragaman sosial dan budaya yang tinggi. Diperlukan upaya nyata untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan aman bagi setiap murid, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau budaya mereka.

 

Selanjutnya, peningkatan profesionalisme guru juga menjadi hal yang sangat penting dalam menerapkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara di Surabaya. Guru yang mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yang berpihak kepada murid menjadi kunci keberhasilan dalam membangun generasi yang berkualitas di tengah dinamika kota ini.

 

Pemaknaan Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara Melalui Sastra

Berikut ini adalah wujud pemahaman, pemaknaan, dan penghayatan saya mengenai filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, khususnya pendidikan yang berpihak pada murid. Bentuk yang saya gunakan adalah guritan, yaitu puisi (berbahasa) Jawa genre baru yang tidak terikat oleh aturan khusus (misalnya guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu), namun masih memperhatikan rasa keindahan dalam bersastra.


 

Terjemahan bebas:

Guru sering diartikan dalam bentuk akronim “digugu lan ditiru”, artinya dipercaya dan dicontoh. Guru adalah sebuah sosok mulia yang selalu dipercaya melalui ucapan dan dicontoh melalui tindakan. Semua itu berdasarkan nilai keutamaan yang terpancar dari diri seorang guru.

 

Seorang guru tidak setiap hari Minggu selalu tidur di rumah saja, namun akan terus belajar. Mengingat esensi dari kegiatan belajar adalah sepanjang hayat, mulai dari kandungan sampai akhir hayat. Ilmu yang didapatkan akan diajarkan kepada para siswa. Semua ilmu itu akan bermanfaat dalam kehidupan mereka.

 

Seorang guru tidak pantas jika perilaku dan ucapannya menjadi bahan bercanda dan hanya dianggap sebagai pengantar tidur. Guru sudah selayaknya membuat siswa selalu gembira dalam pembelajaran. Semua tindakan guru tersebut tidak akan melanggar norma dan etika kehidupan. Selain itu juga menerapkan pembelajaran dengan berlandaskan sikap kasih dan sayang.

 

Guru itu seharusnya tidak hanya diingat melalui akronim atau penyebutkan nama saja, (dalam bahasa Jawa disebut kerata basa). Namun tumbuhkan hubungan erat antara guru dan siswa, yaitu guru harus berhati-hati dalam mengajar, supaya tidak memberikan pengaruh buruk kepada siswa, sedangkan siswa selalu menghormati guru. Sosok guru yang hebat adalah guru yang bisa menuangkan seluruh kompetensinya dalam dunia pendidikan.

 

Dokumentasi Pembelajaran Berpihak Kepada Murid

Berikut ini dokumentasi pembelajaran berpihak kepada murid yang dilaksanakan di SMP Negeri 20 Surabaya:


 

Kita memahami bahwa menerapkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang berpihak kepada murid tidaklah mudah. Namun, dengan kesadaran, kerja keras, kolaborasi antarstakeholder, serta dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, kita dapat mengatasi tantangan pendidikan dan menjadikan pendidikan sebagai wahana untuk menciptakan generasi yang tangguh dan berdaya saing. (*)

No comments:

Post a Comment