Breaking

Thursday, June 4, 2020

SMP NEGERI 20 BERSAING DI SURABAYA YOUNG SCIENTIST COMPETITION 2019

Lomba Peneliti Belia Surabaya 2019

Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya menggelar Surabaya Young Scientists Competition. Lomba ini merupakan yang ketujuh dalam tujuh tahun terakhir sebagai ajang bagi para peneliti belia di beberapa bidang. Para peserta Surabaya Young Scientists Competition maksimal setingkat SMP/MTs. Tahun ini, lomba yang diselenggarakan dua hari di Convention Hall Jalan Arif Rahman Hakim Surabaya itu diikuti 1.147 siswa.

Pada tahun ini ada penambahan bidang penelitian di antaranya sosial, komputer, environmental science, life science, matematika, dan fisika.  Pihak SMP Negeri 20 Surabaya juga ikut berpartisipasi dalam lomba peneliti belia ini. Salah satu peserta dari SMP Negeri 20 Surabaya mengambil tema sosial denga judul Parikan Sebagai Simbolis Budaya Masyarakat Jawa Sub-Etnis Surabaya.

Berikut ini ringkasannya:

Istilah Jawa secara geografis digunakan untuk menyebut nama pulau dan secara kultural-sosiologis digunakan untuk menyebut suku bangsa. Pulau Jawa dan suku Jawa  berkembang di Negara Indonesia. Perkembangan kedua bidang ini tidak identik, karena suku Jawa hanya mendiami Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Suku Jawa yang mendiami tiga provisi di Negara Indonesia memiliki corak kebudayaan beragam. Masyarakat Jawa di Provinsi Jawa Timur terdapat sub-etnis Surabaya yang memiliki ciri khas dalam bidang kebudayaan. Masyarakat Jawa sub-etnis Surabaya memiliki sebuah tradisi lisan berupa parikan yang berkembang melalui kesenian ludruk.

Parikan sebagai salah satu ragam puisi Jawa yang masih digemari masyarakat, karena komunikasi antar-anggota masyarakat akan menjadi lebih menarik ketika disampaikan dengan parikan yang memiliki nilai keindahan.

Padmopuspito mengatakan, terdapat dua arti kata parikan yang berbeda, yaitu (1) parikan terbentuk dari kata dasar pari yang berarti padi dan mendapatkan akhiran –an, namun melalui proses morfofonemis terjadi penambahan fonem glotal stop /k/, sehingga menghasilkan kata parikan, serta (2) pari dalam bahasa Jawa termasuk ragam ngoko dan pantun dalam ragam krama yang dihubungkan dengan istilah pantun dalam khasanah sastra Melayu dan Indonesia (Widayat, 2006: 52).

Parikan sebagai puisi Jawa masih patuh terhadap beberapa kaidah yang mengikat. Endraswara (1994: 183) mengatakan, parikan memiliki aturan tidak terlalu ketat dalam penempatan bait, baris, jumlah suku kata, dan permainan bunyinya.

Saputro (2005: 45) mengatakan parikan sebagai puisi Jawa yang memiliki kaidah metrum berupa guru lagu (rima akhir), guru wilangan (jumlah suku kata tiap baris), serta tautan antara sampiran dan isi ditentukan oleh rima akhir. Lebih detail,

Padmosoekotjo (1953: 64) menjelaskan parikan memiliki beberapa aturan, yaitu (1) terdiri dari dua kalimat, (2) setiap kalimat terdiri atas dua frase, (3) frase pertama terdiri atas empat suku kata sedangkan frase kedua terdiri atas empat atau delapan suku kata, (4) menggunakan purwakanthi guru swara, yaitu suku kata pada akhir frase pertama sesuai dengan frase ketiga, sedangkan frase kedua sesuai dengan frase keempat, serta (5) kalimat pertama sebagai pembukaan sedangkan kalimat kedua sebagai isi.

Beberapa fungsi bahasa tercermin dari perkembangan parikan di masyarakat Jawa sub-etnis Surabaya. Jacobson (1991: 76) mengatakan, parikan memunyai fungsi bahasa yang terdiri atas, fungsi emotif, referensial, puitik, fatik, metalinguistik, dan konatif. Pada penelitian ini dibahas perkembangan parikan di Kota Surabaya melalui berbagai sumber berdasarkan fungsi bahasa tersebut. Fungsi bahasa itu juga dikaitkan dengan fungsi sosial yang terkandung dalam parikan sebagai produk simbolis budaya.

Sukses SMP Negeri 20 Surabaya! (*)

No comments:

Post a Comment