Breaking

Friday, June 12, 2020

STRUKTUR LAKON PERGELARAN WAYANG KULIT DEWI SRI BOYONG

Wayang Kulit Lakon Dewi Sri

Struktur lakon merupakan unsur pada suatu karya sastra atau seni, khususnya yang mengandung cerita atau narasi. Pada analisis struktur lakon ini disampaikan pembahasan mengenai unsur-unsur pembangun lakon pagelaran wayang kulit Dewi Sri Boyong. Struktur lakon dari pertunjukan wayang kulit tersebut terdiri dari, tema, alur, latar, dan penokohan.

 

TEMA

Tema sering disebut juga dengan dasar cerita, yakni pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Menurut jenisnya, tema dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tema mayor dan minor. Tema mayor adalah permasalahan yang paling dominan menjiwai suatu karya sastra. Tema minor atau sering disebut juga tema bawahan adalah permasalahan yang merupakan cabang dari tema mayor. Wujud tema minor dapat berupa akibat yang ditimbulkan oleh tema mayor.

Tema kepahlawanan merupakan tema mayor dalam pertunjukan Dewi Sri Boyong. Landasan penilaian tema kepahlawanan sebagai tema mayor, karena lakon Dewi Sri Boyong merupakan lakon carangan yang bersumber dari kitab Mahabarata yang terkenal dengan sebutan karya sastra epos atau epik. Landasan lain, yaitu dari jalannya cerita yang menceritakan perjuangan tokoh-tokoh pandhawa beserta keluarga dan kerabat yang berusaha mengembalikan Dewi Sri ke kedudukan semula. Sepintas dapat dilihat dari pertunjukan wayang Dewi Sri Boyong yang menceritakan keteguhan hati dan pengorbanan Raden Bambang Prabakusuma.

Raden Bambang Prabakusuma berusaha mendapatkan pengakuan dari orang tua laki-laki atau ayahnya, yaitu Raden Harjuna. Hal itu tidak serta-merta langsung didapatkan, karena Raden Praba Kususma harus menunjukkan pengandian dulu kepada Kerajaan Amarta. Raden Harjuna memerintahkan kepada Raden Praba Kusuma untuk mencari Dewi Sri dan mengembalikan kedudukannya seperti semula. Raden Praba Kusuma dengan sikap yang tanggap langsung bersedia menerima perintah tersebut. Sikap pemuda seperti Raden Praba Kusuma itu menunjukkan tema kepahlawanan.

 

ALUR

Bagian eksposisi atau janturan ini menceritakan keadaan negara Amarta. Kerajaan tersebut merupakan negara yang didirikan oleh Pandhawa yang awalnya berupa hutan bernama Wanamarta. Ketika sudha dibangun menjadi kerajaan diberi nama Ngamarta, Batanakawarsa, Cintakapura, juga disebut Indraprastha. Semua rakyat Kerajaan Amarta merasakan keadaan Kerajaan Amarta yang aman tenteram dan kondusif. Masyarakat luar Kerajaan Amarta juga merasakan keadaan tersebut, sehingga akhirnya banyak pendatang yang menetap di wilayah Kerajaan Amarta. Cerita dilanjutkan dengan penuturan mengenai pemimpin yang berkuasa di Kerajaan Amarta, yaitu Sri Maha Prabu Puntadewa, Darmakusuma, Yudhistira, Dwijakangga, Gunatalikrama, juga disebut Sang Ajanasatru. Sampai akhir bagian ini, yaitu diceritakan pada waktu Respati Manis (Kamis-Legi) Prabu Puntadewa mengadakan pertemuan dengan para pejabat kerajaan dan saudara yaitu Pandhawa, serta mengundang raja negara sahabata yaitu Prabu Bathara Kresna dan Prabu Baladewa.

Prabu Puntadewa sebagai pemimpin di Kerajaan Amarta meminta pendapat Prabu Bathara Kresna mengenai keadaan Kerajaan Amarta. Pada waktu itu Kerajaan Amarta mengalami musibah, yaitu banyak rakyat yang mengalami kelaparan dan lahan pertanian sudah tidak bisa menghasilkan tanaman lagi. Keadaan Kerajaan yang memprihatinkan seperti menjadi renungan Prabu Puntadewa. Ketika Prabu Bathara Kresna dan Prabu Baladewa dimintai solusi, ternyata keadaan seperti itu juga dialami  mereka di Kerajaan Dwarawati dan Kerajaan Mandura. Prabu Bathara Kresna sebagai penjelmaan Bathara Wisnu mengetahui sebab dari keadaan itu adalah karena adanya mustika retna linggar saking sasana (hal yang berharga berupa seorang wanita yang hilang dari tempat). Maksud dari ungkapan tersebut, yaitu Dewi Sri yang merupakan wujud anugerah kesuburan dan kemurahan pangan di Krajaan Amarta telah pergi dari tempatnya, sehingga Kerajaan Amarga mengalami keadaan kekurangan pangan.

Persoalan pertama pada pertunjukan wayang Dewi Sri Boyong adalah mengenai hilangnya Dewi Sri dari kedudukan semula dapat diambil solusi dengan saran dari Prabu Bathara Kresna, namun belum dilaksanakan sudah tumbuh persoalan baru. Persoalan yang muncul di waktu selanjutnya adalah munculnya seorang satria bernama Raden Bambang Praba Kusuma. Pemuda tersebut berasal dari Kahyangan Kaendran (Kahyangan Bathara Indra) dan merupakan putra Dewi Supraba. Prabu Puntadewa yang merasa penasaran menanyakan maksud Raden Bambang Praba Kusuma datang ke Kerajaan Amarta. Raden Praba Kusuma mengutarakan tujuannya datang di Kerajaan Amarta untuk mencari ayahnya yang bernama Raden Arjuna. Berdasarkan cerita dalam pewayangan, Raden Bambang Praba Kusuma akan diakui oleh Raden Arjuna sebagai putranya jika bisa mengembalikan Dewi Sri ke kedudukan semula. Hal ini menunjukkan kalau kemunculan persoalan kedua ada hubungan dengan persoalan yang pertama atau bisa juga persoalan kedua ini akan menjadi sarana untuk menyelesaikan persoalan pertama.

Keadaan krisis ini ditunjukkan merupakan puncak dari alur yang ditandai dengan berangkatnya pasukan Kerajaan Amarta. Semua satria sebagai pimpinan perang dan prajurit dipersiapkan. Prabu Baladewa dan Raden Werkudara sebagai golongan tua mempersiapkan pasukan untuk mencari kedudukan Dewi Sri di Kerajaan Panjanggribik. Raden Gathutkaca dan para puta Pandhawa ikut terlibat dengan rencana tersebut. Mereka semua memberangkatkan pasukan dan melawan pasukan Kerajaan Panjanggribik. Perang ini dinamakan perang gagal, sehingga kedua belah pihak tidak akan mendapatkan hasil dari peperangan atau tidak ada yang menang dan kalah.

Bagian resolusi dalam pagelaran wayang kulit Dewi Sri Boyong ini ditandai dengan adegan Raden Bambang Praba Kusuma yang sudah menemukan kedudukan Dewi Sri di Kerajaan Panjanggribik. Hasil dari pertemuan itu, Dewi Sri bersedia kembali ke Kerajaan Amarta dengan beberapa syarat. Salah satu syarat, yaitu menghargai budaya dan mengutamakan rasa syukur kepada Tuhan. Raden Bambang Praba Kusuma bersedia menyampaikan hal tersebut kepada Pandhawa. Terakhir, Dewi Sri mengetakan akan memberikan tanda apabila sudah kembali yaitu ada bau harum yang disertai hujan gerimis.

Bagian keputusan dalam pagelaran wayang Dewi Sri Boyong ini ditandai dengan kembalinya Dewi Sri ke kedudukan semula di Kerajaan Amarta. Dewi Sri kembali dengan ditandai bau harus dan hujan gerimis. Ketika Dewi Sri kembali ke kedudukannya, Kerajaan Amarta menjadi gemah ripah loh jinawe seperti sedia kala. Hal ini merupakan hasil akhir dari usaha yang dilakukan oleh tokoh Pandhawa dan para putra untuk kembali ke jadi diri, yaitu menghargai budaya dan membesarkan rasa syukur.

 

LATAR

Kerajaan Amarta merupakan latar tempat yang utama dalam pagelaran wayang ini. Pernyataan tersebut didasarkan pada kenyataan kalau tokoh utama dalam pagelaran wayang ini adalah para Pandhawa. Perlu diketahui kalau Kerajaan Amarta adalah kerajaan Pandhawa. Di Kerajaan Amarta dilakukan beberapa adegan, di antaranya jejer gapuran, jejer kedhaton, dan jejer paseban jawi.

Latar waktu yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit Dewi Sri Boyong ini secara umum adalah pada siang hari. Salah satu adegan yang menunjukkan latar waktu siang hari adalah dilakukannya adegan pasewakan. Hal tersebut dibuktikan dengan dilakukan oleh pimpinan kerajaan untuk melakukan pertemuan dengan pejabat kerajaan untuk membahas keadaan kerajaan. Adegan pada jejer gapuran yang dilakukan oleh tokoh Prabu Puntadewa, para Pandhawa, dan mengundang Prabu Bathara Kresna serta Prabu Baladewa. Mereka membahas keadaan kerajaan yang sedang mengalami musibah dan akan mencari solusi.

Latar sosial mencakup suatu gambaran kebiasaan dan adat yang dilakukan oleh masyarakat. Salah satu pencerminan dari adat mengenai perjodohan atau pernikahan. Di dalam tradisi Jawa perjodohan itu akan terlaksana apabila ada kesesuaian derajat antara yang keduanya. Adat tersebut masih dilakukan dalam pertunjukan wayang lakon Dewi Sri Boyong ini. Gambaran umum, yaitu Raden Nila Taksaka yang mencintai Dewi Sri. Percintaan mereka itu melanggar adat, sehingga Prabu Merak Kesimpir tidak merestui. Selain masyarakat yang memang tidak menghendaki itu, namun takdir dari Tuhan pun tidak berpihak kepada Raden Nila Taksaka. Takdir mengharuskan Dewi Sri untuk kembali ke Kerajaan Amarta.

 

PENOKOHAN

Proses penokohan sering kali disebut perwatakan atau karakterisasi. Menurut Nurgiyantoro (2002: 195) terdapat dua teknik pelukisan tokoh, yaitu teknik analitis dan dramatik. Teknik analitis adalah cara pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan ciri fisiknya. Teknik dramatik yaitu penampilan tokoh cerita dalam teknik dramatik, artinya mirip dengan yang ditampilkan pada drama, dilakukan secara tak langsung. Pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun non verbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan melalui peristiwa yang terjadi.

Penokohan dalam pagelaran wayang memiliki teori tersendiri, yaitu berdasarkan penyimpingan dan warna wajah. Penyimpingan merupakan cara menancapkan wayang pada pakeliran, yaitu tokoh satria itu ada di sebelah kanan dan tokoh raksasa ada di bagian kiri. Cara kedua berdasarkan warna wajah, yaitu wajah putih menandakan tokoh yang berbudi baik, hitam merupakan tokoh berbudi teguh, dan tokoh berwajah merah tokoh yang penuh amarah. Beberapa contoh tokoh dalam pagelaran wayang kulit lakon Dewi Sri Boyong.

Penokohan yang ketiga dapat dilihat dari jalannya cerita. Karakter tokoh dapat disimpulkan dengan menelaah dari cerita yang ditampilkan. Sebagai contoh adalah tokoh Raden Bambang Praba Kusuma. Dia merupakan tokoh pemuda yang bersedia mengorbankan jiwa dan raga untuk membela negara atau memenuhi kepentingan negara. Raden Bambang Praba Kusuma menerima perintah Raden Arjuna untuk mengembalikan Dewi Sri ke kedudukan semula. (*)

No comments:

Post a Comment