Breaking

Saturday, June 27, 2020

MENJALIN HUBUNGAN BAIK GURU DAN SISWA

Hubungan Guru dan Siswa

Pembahasan ini perlu dimulai dengan pemahaman mengenai cakupan etika. Kata etika berasal dari bahasa asing. Endraswara mengatakan, etika berasal dari kata ethos dalam bahasa Yunani, yang artinya adat kebiasaan. Kata ethos selanjutnya dijadikan landasan oleh Aristoteles di dalam mengartikan kata etika yang mempunyai hubungan dengan moral yang berasal dari kata mores dalam bahasa Latin.

Pada perkembangan selanjutnya kata etika dan moral itu dianggap mempunyai kedudukan yang sama, yaitu mempunyai arti suatu adat kebiasaan. Menurut Suseno, etika mempunyai arti semua norma dan penilaian yang digunakan oleh masyarakat tersebut untuk mengetahui bagaimana manusia itu harus menjalani hidup. Pada hakikatnya, etika Jawa bisa disebut sebagai sistem moralitas atau keutamaan Jawa (kepunyaan orang Jawa atau berwatak njawani).


Guru Beretika

ETIKA JAWA UNTUK GURU

Peran guru di dalam masyarakat sangatlah penting. Guru merupakan pengganti kedudukan orang tua, khususnya di lingkungan sekolah. Tugas seorang guru yaitu menyampaikan ilmu sekaligus membimbing murid-murid dalam berperilaku yang baik. Mengingat tugas guru yang penting yaitu menentukan arah hidup generasi penerus bangsa, tentu saja seorang guru juga harus berpengetahuan luas dan berperilaku yang baik. 

Berkaitan dengan perilaku guru, di dalam Serat Wira Iswara dibahas beberapa etika Jawa yang harus diperhatikan oleh guru. Petikan ini merupakan salah satu etika Jawa seorang guru.

 

heh mulane nguni bener wulangipun

kaping pat sri narapati

lamun sira anggeguru

ngulama kang nora melik

ya marang pawewehing wong (WPa. P.X.12)

 

Makna teks tembang:

Sungguh benar ajaran yang disampaikan oleh Susuhunan Paku Buwana IV. Ketika kamu ingin mencari ilmu, sebaiknya memilih seorang ulama (guru) yang tidak pamrih para pemberian. 

Kedudukan seorang guru dalam masyarakat sangat penting. Guru sering dikaitkan dengan sosok yang perannya sebagai penyampai ilmu. Masyarakat Jawa berusaha membuat sebuah ungkapan melalui jarwa dhosok guru yaitu digugu lan ditiru. Maka setiap perilaku dan ucapan seorang guru harus diperhatikan, jangan sampai sebagai penyebab kerusakan pada budi pekerti murid. 

Khazanah sastra Indonesia juga mempunyai ungkapan, guru kencing berdiri murid kencing berlari, artinya semua perbuatan guru akan menjadi contoh murid-muridnya. Semua pengabdian guru harus dilandasi dengan sikap tanpa pamrih. Sikap guru ini diabadikan dalam hymne guru.

Tidak pamrih, masih berlaku. Wujud nyatanya yaitu nrima ing pandum (menerima kodrat) harus merasa cukup semua rezekinya. Jadi dalam bertindak itu tidak merasa memiliki pamrih. Contoh nyata untuk guru, bisa disebut ikhlas. Upamanya begini, muridnya diperintah les di luar, membayar. Seperti itu kurang pantas. Guru kalau pertindak pamrih, muridnya memberikan hadiah. Itu yang pamrih (mengharap pemberian) (Suharmono Kasiyun, 22 Mei 2013).


Siswa Beretika

ETIKA JAWA UNTUK PARA PUTRA ATAU SISWA

Di sisi lain, peran guru berhubungan dengan para siswa yang hendak mencari ilmu. Para siswa sudah dianggap sebagai putra sendiri. Peran para putra sebagai generasi penerus tentu bisa berperan sebagai kelompok yang penting dalam masyarakat. Para putra yang mempunyai semangat yang membara, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka membutuhkan suatu pedoman dan contoh langsung di dalam kehidupan supaya tidak salah dalam melangkah. Serat Wira Iswara menampilkan beberapa etika Jawa yang harus diperhatikan oleh para putra sehingga menjadi generasi penerus yang baik. Petikan ini menunjukkan contoh etika Jawa untuk para putra.

 

semuning nom nampaa wulang utami

kang kanggo neng praja

lumrahing jamanireki

aywa luwih lawan kurang (WPa. P.VIII.9)

 

pasemone kuda curigestri tulis

jarwane mangkana

kuda den kuwat tarampil

curiga landheping cipta (WPa. P.VIII.10)

 

wanitadi den bisa ngenaki ati

tur manising sabda

karya kayungyuning laki

sastra parigeling basa (WPa. P.VIII.11)

 

Makna teks tembang:

Sifat seorang pemuda dalam menerima ajaran tentang ajaran kebaikan khususnya ketika hidup di kerajaan (negara) janganlah setengah-tengah (tidak boleh kurang). Ajaran itu difirasatkan dengan ungkapan kuda curigestri tulis. Maksud dari kata kuda curigestri tulis, adalah kuda artinya kuat dan terampil, curiga berati tajam dalam pikiran, estri berarti harus bisa menyenangkan hati lan bersikap manis ketika berbicara sebagai sarana untuk menarik perhatian laki-laki, dan tulis (sastra) itu berarti pandai dalam berolah bahasa dan sastra (ilmu pengetahuan).

Etika yang harus dimiliki oleh para pemuda yaitu ditunjukkan dengan berbudi pekerti mulia dan berpikiran cerdas. Hal tersebut sudah dikenal di masyarakat Jawa sejak zaman dahulu (zaman kerajaan), yaitu seorang pemuda dari golongan wong ngaluhur dan wong cilik yang sudah selesai menuntut ilmu wajib mengamalkan ilmunya dengan cara mengabdikan diri kepada negara. Mereka akan diterima sebagai prajurit yang bekerja untuk negara. 

Berdasarkan petikan tadi, etika Jawa yang harus diperhatikan oleh pemuda itu difirasatkan dengan ungkapan kuda curigestri tulis. Maksud dari ungkapan itu, adalah kuda artinya kuat dan terampil, curiga berarti tajam dalam pikiran, estri berarti harus bisa menyenangkan hati lan bersikap manis ketika berbicara sebagai sarana untuk menarik perhatian laki-laki, dan tulis (sastra) itu berarti pandai dalam berolah bahasa dan sastra (ilmu pengetahuan).

Baca juga: Terima Kasih untuk Guruku

Hubungan yang baik antara guru dan siswa akan menentukan keberlangsungan peradaban kehidupan di negara ini. Guru menyiapkan para siswa sebagai generasi penerus yang tangguh, sedangkan para siswa akan menjadi warna yang indah bagi kehidupan bangsa dan negara di masa depan. (*)

No comments:

Post a Comment