Breaking

Monday, April 18, 2016

LEGENDA DESA MIRAH DAN GOLAN-PONOROGO

Legenda Desa Mirah dan Golan

Menjelang tahun 1486, eksistensi kerajaan Wengker sudah pudar. Namun, masih ada beberapa kekuatan yang dikoordinir Ki Ageng Kutu Suryangalam di Kademangan Surukubeng. Kekuatan-kekuatan ini berada di desa Siman, gunung Loreng, gunung Pegat, desa Sukosewu, satu lagi, yaitu desa Golan atau desa Karang di bawah pimpinan Ki Hanggalana. Semuanya masih menganut agama Budha.


Secara geografis desa Golan berdekatan dengan desa Mirah atau Nambangan. Desa Mirah adalah kediaman Ki Ageng Mirah yang nama aslinya Kyai Muslim, penyebar agama Islam yang datang di Wengkar lebih dulu daripada Raden Bathara Katong.


Ketika putra Ki Hanggalana yang bernama Jaka Lancur ingin mempersunting perawan Mirah, putri Ki Ageng Mirah. Terjadi suatu peristiwa yang sangat tidak diinginkan. Peristiwa ini diawali dari perbedaan agama kedua calon mempelai hingga tewasnya kedua calon mempelai. 


Sehingga ada sungai yang mengalir dari desa Golan dengan sungai yang mengalir dari Mirah, namun pertemuan air itu tidak dapat menyatu dan nampak airnya berpisah. Ki Ageng Kutu kalah dan jasadnya menghilang di Dloka, sedangkan Ki Hanggalana tewas oleh Raden Selaaji.


Kemudian disusul dengan beberapa pantangan yang dianut oleh penduduk kedua desa tersebut. Beberapa pantangan itu, penduduk desa Mirah tidak berani menyimpan kawul (batang padi) dan titen (kulit kedelai atau kacang hijau), karena mudah terbakar. Tidak berani menjalin pernikahan antara penduduk desa Golan dengan penduduk desa Mirah. 


Penduduk desa Mirah  bila membawa barang dari Golan, sebelum keluar dari desa Golan dia akan kebingungan tidak tahu jalan mana untuk menuju rumahnya. Dia akan terus memutar-mutar di situ. Demikian sebaliknya, bila benda itu tidak segera dibuang. (*)

 

No comments:

Post a Comment